Menghidupkan Identitas Kota (1) : Arsip, Kritik, dan Pertunjukan

  • Nov 16, 2024
  • Muhammad Farid

Oleh Imam Khanafi, pegiat arsip di Kudus

KUDUS, sebuah kota kecil dengan sejarah panjang di Jawa Tengah, menjadi saksi dari geliat sastra yang berakar kuat pada budaya lokal. Malam hari (28/10/2024), sebuah diskusi bertajuk Bincang Skena Sastra: Arsip, Kritik, dan Pertunjukan digelar di Panggung Ngepringan, Kampung Budaya Piji Wetan.

Pada suasana malam yang segar setelah hujan itu, para pegiat sastra dari Kudus, Pati, dan Jepara berdiskusi serta merayakan kehidupan sastra lokal yang sedang berkembang. Tidak cukup itu, mereka juga mengkritik dan mengkaji ulang karya ada sebagai cara mereka merawat tatanan identitas serta ingatan tentang kota.

Pertemuan yang diselenggarakan oleh Phos Zine Sastra bersama KBPW malam itu bisa dikatakan sebagai momentum yang menyatukan para pencinta sastra dari berbagai latar belakang. Acara ini merefleksikan visi untuk menjaga dan merawat. Selain itu melihat skena sastra lokal sebagai upaya membentuk identitas kultural yang unik di antara hiruk-pikuk budaya populer.

Peserta diskusi berbicara tentang pentingnya mendokumentasikan karya sastra, terutama dalam bentuk digital, agar mudah diakses generasi mendatang. Ada kekhawatiran bahwa karya-karya sastra lokal sering kali tidak terarsip dengan baik, bahkan terlupakan.

Pusaka Pemikiran dan Kebudayaan Lokal

Seorang perempuan dari Pati, Siwi Agustin, membuka obrolan malam itu dengan pandangan mendalam tentang pentingnya arsip sastra. Baginya, arsip sastra dan pertunjukan bukanlah sekadar catatan ataupun tumpukan dokumen. Katanya, arsip adalah pusaka. Arsip juga penanda yang berisi jejak jiwa dan pemikiran dari generasi terdahulu.

“Bayangkan, tanpa arsip, karya-karya yang pernah ada akan lenyap seperti debu yang terbawa angin,” ucapnya dengan penekanan nada bicara.

Pati, kota kelahirannya itu, menjadi saksi bagi upayanya dan para pegiat sastra lain dalam mendokumentasikan karya-karya sastra lokal. Ia menyaksikan semakin banyaknya pertunjukan dalam bentuk teater, puisi, dan prosa yang kini tercatat dan terdokumentasi. Pertunjukan-pertunjukan ini sering kali mengangkat tema kehidupan sehari-hari masyarakat Pati dan menggambarkan kondisi sosial yang menyentuh, membawa kembali cerita-cerita yang menggugah tentang kisah masyarakat setempat. Siwi percaya bahwa setiap karya yang diarsipkan adalah cermin kehidupan masyarakat, yang merekam nilai-nilai budaya dan sosial yang sangat berharga untuk dilestarikan bagi generasi mendatang.

Pegiat Komunitas Sastra Jaladara Jepara, Linda Natalia turut menambahkan sudut pandangnya dari realitas yang terjadi di Jepara. Menurutnya, arsip sastra adalah medium yang mampu menyatukan masa lalu dan masa kini. Melalui arsip, kita dapat memahami apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diperjuangkan oleh para penulis di masa lalu.

Linda menekankan bahwa arsip bukanlah sesuatu yang hanya bermanfaat bagi para penulis atau pegiat sastra, tetapi juga penting bagi siapa pun yang ingin memahami budaya lokal secara lebih dalam. “Arsip ini, suatu hari nanti, bisa dibaca, diresapi, dan dijadikan inspirasi oleh anak-cucu,” kata Linda. “Ketika mereka melihat kembali ke karya-karya yang tersimpan, mereka akan menemukan pelajaran tentang kebudayaan, moral, dan sejarah yang tak pernah tercatat dalam buku sejarah resmi di sekolah,” imbuhnya.

Di antara hadirin yang mengikuti diskusi malam itu, tampak beberapa orang tersenyum tipis, mengangguk seolah menyetujui pandangan Siwi dan Linda. Terlihat jelas rasa bangga tersirat di wajah mereka, bangga karena menjadi bagian dari kota-kota kecil yang memiliki kekayaan sastra yang berharga ini. Ada harapan yang melampaui kata-kata, harapan bahwa arsip sastra akan terus dirawat sebagai pusaka yang berharga, bukan hanya bagi para pelaku sastra, tetapi bagi seluruh masyarakat.

Arsip sastra memiliki peran penting sebagai sumber inspirasi. Dengan arsip, generasi berikutnya tidak hanya bisa menikmati karya sastra lokal, tetapi juga memetik hikmah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Arsip merupakan jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, yang mengajak pembacanya untuk merenungi perjalanan sosial, budaya, dan emosional yang dilalui oleh masyarakat di masa lalu. [Bersambung]