Menghidupkan Identitas Kota (2) : “Tanpa Kritik Sebuah Karya Akan Terasa Hampa”
- Nov 18, 2024
- Muhammad Farid
Oleh Imam Khanafi, pegiat arsip di Kudus
KUDUS masih berjibaku dengan identitas kebudayaannya malam itu. Di Panggung Ngepringan Piji Wetan, sudut pandang yang dilontarkan Siwi dan Linda mengenai arsip sastra dan pertunjukan terus berkembang. Pada diskusi bertajuk Bincang Skena Sastra : Arsip, Kritik dan Pertunjukan itu juga mengundang seorang aktor, penulis dan pegiat komunitas Tikus Putih, Afif K. Sanjaya.
Malam itu, Afif menawarkan perspektif lain mengenai cara merawat sastra dan identitas budaya sebuah masyarakat yakni dengan cara mengkritik. Afif melihat kritik sebagai napas yang menghidupkan karya sastra. “Tanpa kritik, sebuah karya akan terasa hampa dan kurang memiliki jiwa,” katanya dengan penuh keyakinan sambil tersenyum.
Bagi Afif, kritik bukanlah menghakimi, tapi menggali makna yang lebih dalam, memahami, dan mendiskusikan karya dengan penuh keterbukaan. Kritik adalah lentera yang menuntun kita melihat karya sastra dari sudut-sudut yang tak pernah terpikirkan.
Afif menceritakan bagaimana kritik sastra mulai berkembang di kota-kota kecil seperti Kudus, Pati, serta Jepara dan menciptakan atmosfer yang sehat dan positif bagi para penulis maupun pembaca. Kritik, kata Afif, harusnya bisa menjadi sarana apresiasi yang membantu penulis mengembangkan karya mereka.
“Jadi, menurut saya, kritik yang jujur dan konstruktif adalah hadiah yang berharga—bukan ancaman, tetapi semacam dukungan tersembunyi yang menyulut pertumbuhan,” jelasnya.
Tradisi Mengkritik
Kendati tumbuh, kritik seringkali masih dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan atau bahkan menyinggung. Pada sebagian besar komunitas sastra lokal, tradisi mengkritik yang sehat dan konstruktif belum sepenuhnya diterima. Ada kecenderungan untuk menghindari kritik yang jujur, karena dianggap terlalu keras atau tidak sopan.
Afif kemudian mengapresiasi upaya Phos Zine Sastra di Kudus yang mulai membangun budaya kritik yang lebih positif sebagai cara mengapresiasi karya. Menurutnya, Phos Zine Sastra mampu menciptakan ruang diskusi yang nyaman. Di komunitas tersebut, kata dia, setiap orang bisa mengungkapkan pandangannya dengan bebas, namun tetap dengan sikap saling menghargai.
“Mereka percaya bahwa kritik adalah bagian penting dari perkembangan sastra, dan bahwa kritik yang dibangun di atas rasa hormat dan keterbukaan dapat membantu setiap penulis dan pembaca tumbuh bersama,” terangnya.
Para peserta diskusi tampak serius mendengarkan, mengangguk-angguk, dan sesekali tersenyum saat Afif menguraikan pandangannya. Ada pemahaman baru yang tumbuh di antara mereka, bahwa kritik bukanlah momok yang perlu dihindari. Kritik adalah bagian dari perjalanan sastra yang tak terelakkan. Di dalamnya, setiap karya diuji, diperbaiki, dan akhirnya mencapai puncak yang lebih tinggi.
Dengan menerima kritik, penulis atau seniman panggung akan menemukan ruang untuk bertumbuh, untuk melihat dirinya dan karyanya dengan mata yang lebih terbuka. Pembaca pun akan memperoleh pengalaman membaca yang lebih kaya, karena kritik memberi mereka sudut pandang baru untuk melihat karya sastra yang mungkin terasa biasa saja pada pandangan pertama.
Di antara sinar lampu temaram dan angin yang berhembus pelan di Ngepringan malam itu, kritik sastra seolah menemukan rumahnya. Sebagai bagian penting dari perkembangan sastra, kritik di Kudus, Pati, dan Jepara tak hanya memperkaya perspektif para penulis, tetapi juga menginspirasi para pembaca untuk memahami sastra dengan lebih mendalam. Kritik adalah cermin yang tidak hanya memantulkan, tetapi juga memperdalam pemahaman kita tentang kehidupan. [Bersambung]