Menghidupkan Identitas Kota (3) : Harmoni dalam Distorsi, Musik Noise, Olah Tubuh dan Puisi

  • Nov 18, 2024
  • Muhammad Farid

Oleh Imam Khanafi, pegiat arsip di Kudus

KUDUS di malam hari cenderung sepi. Sebagai kota kecil yang dikepung industri, masyarakat Kudus cenderung memanfaatkan waktu malamnya untuk aktivitas pribadi. Kecuali di Kampung Budaya Piji, ratusan anak muda dan warga masih berdiskusi perihal identitas kota yang diharapkan bisa hidup lebih baik lagi.

Bincang Skena Sastra: Arsip, Kritik, dan Pertunjukan malam itu (28/10/2024) mencoba menghadirkan hiburan musik yang tak seperti biasanya. Ya, pentas kolaborasi antara Pimpimpo x Haymbun itu membawakan musik noise sebagai sajian utama. Mereka dibantu oleh Adidun x Siwi yang menampilkan pertunjukan olah gerak tubuh dan puisi yang menyayat jiwa. Yakni perihal kesadaran untuk memaknai ulang arti kehidupan yang terinspirasi dari falsafah tembang macapat Mijil, Kinanthi dan Pocung.

Kolaborasi antara musik noise, seni gerak, dan puisi ini bukan sekadar sebuah pertunjukan, melainkan sebuah bentuk perlawanan terhadap keteraturan dan batas-batas interpretasi. Di tengah bunyi yang kacau dan gerakan yang tidak teratur, hadir puisi yang menambah dimensi baru dalam kolaborasi ini. Pimpimpo x Haymbun menuturkan kata-kata yang lahir dari suasana noise, sebuah puisi yang tidak mengikuti struktur puitis konvensional, tetapi melebur bersama kebisingan. Puisi mereka menjadi bagian yang hidup, melengkapi kekacauan noise dan gerakan, menciptakan pengalaman yang menghantam sekaligus menyentuh.

Di dalam kekacauan ini, Elang, Adidun, Siwi, dan Pimpimpo x Haymbun menghadirkan suara mereka yang seolah menyerukan kepada dunia bahwa keindahan tidak selalu muncul dari ketertiban, dan bahwa harmoni tak selalu berarti keselarasan. Mereka mengajak audiens untuk merangkul sisi liar dalam diri, untuk menerima bahwa kehidupan penuh dengan kontradiksi, dan bahwa justru dalam ketidaksempurnaan tersebut terdapat keindahan yang jujur dan murni.

Merayakan Kompleksitas Manusia

Menurut Elang, musik noise seringkali dipandang sebagai sesuatu yang liar dan tak beraturan. Padahal, kata dia, musik noise adalah sebuah lanskap suara yang menabrak batas, penuh distorsi, dan serangan bunyi yang tidak terduga. Tidak sekadar memperdengarkan kebisingan; mereka menata dan mengolahnya dengan seni olah tubuh dan bahasa puisi untuk menghadirkan pengalaman artistik yang menghantam emosi dan menantang interpretasi dari para pendengarnya. Dengan perpaduan ini, mereka menciptakan "bahasa" baru yang beresonansi dengan kompleksitas jiwa manusia.

“Dalam dunia musik noise, suara-suara yang kasar—gemuruh distorsi, dentuman keras, atau suara berderak yang terputus-putus—menawarkan ruang untuk merenungkan hal-hal yang sering kali luput dari perhatian,” kata Elang Ade Iswara, pegiat Pimpimpo.

Noise tidak menyediakan harmoni yang biasa kita kenal. Pada noise tidak ada pola melodi atau ritme tradisional yang menenangkan telinga. Sebaliknya, noise menawarkan kebebasan total bagi penonton untuk membayangkan, merasakan, dan menafsirkan dunia dalam cara yang baru dan sering kali tidak terduga.

“Musik noise adalah kanvas bagi kekacauan dan emosi,” jelasnya. Di balik setiap detak suara, noise bukan sekadar kebisingan. Bagi Elang, noise adalah media yang memungkinkan untuk menghadirkan realitas emosi yang paling mentah. Bunyi-bunyian yang membenturkan batas-batas keselarasan tradisional ini membawa pendengar ke dalam lapisan-lapisan emosi yang mungkin terpendam.

Seperti kanvas yang diisi dengan guratan-guratan kasar, suara noise adalah medium yang tidak hanya menangkap ketidakpastian dan kebingungan. Tapi juga mengungkapkan kejujuran yang jarang ditemukan di dunia musik yang teratur. Noise bukan hanya rangkaian suara tanpa bentuk, tetapi percikan spontanitas yang menghantam keheningan dan memecah batas-batas estetika konvensional. Mendengarkan musik noise adalah perjalanan mendalami jiwa dan perasaan manusia yang penuh dengan kompleksitas. Paling tidak, itulah yang diungkapkan oleh Elang setelah menekuni genre noise belakangan ini.

Pertunjukan malam itu lebih dari sekadar hiburan ; Noise yang dalam kebanyakan konteks dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari, mampu menjadi medium yang menyentuh jiwa. Noise di Ngepringan itu juga menghubungkan audiens dengan pengalaman batin yang mungkin tidak pernah mereka sadari. Di antara kebisingan dan kekacauan, tersimpan pesan kuat tentang hidup yang penuh ketidakpastian, tetapi kaya akan kemungkinan. [Bersambung]